Aku dan Surat Ar - Rahman
فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabiai-yi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
"Maka nikmat Rabb-kamu yang manakah, yang kamu dustakan;"
Surah Ar Rahman merupakan surat yang ke-55 dalam Al-Qur’an, dan surat ini merupakan salah satu surat favorit saya tanpa mengesampingkan surat-surat yang lain. Bahkan mungkin kebanyakkan dari kita, juga memfavoritkan Surat Ar-Rahman ini.
Kenapa Q.S Ar - Rahman menjadi surat favorit buat saya?
Entahlah, hanya suka saja, terlebih saat saya mendengarkan Murottal Surat Ar-Rahman ini. selain itu, kandungannya juga luar biasa dan yang lebih mengesankan adalah adanya pengulangan tentang pertanyaan kedustaan kita sebagai manusia atas nikmat-nikmat Allah sebanyak 31 kali.
Fabiai-yi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
Ini yang perlu direnungkan oleh kita sebagai manusia. Betapa Allah tak pernah menyia-nyiakan ciptaan-NYA. Allah tak begitu saja membiarkan menciptakan manusia, hewan, ataupun tumbuh-tumbuhan. Semuanya sudah dijamin rizkinya. Tapi yang jadi masalah adalah 'KITA', khususnya 'SAYA', masih sering mendustakan nikmat-nikmat yang telah Allah limpahkan dalam setiap detiknya.
Fabiai-yi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
Nafas ini, udara ini, oksigen, air, mata, tangan, kaki, anggota tubuh yang sempurna, makanan, minuman dan sebagainya. Semuanya semata-mata adalah karunia dari Allah SWT. Saat keberhasilan dicapai, saat kemenangan diraih, terkadang saya begitu egois. Saya menjadi manusia yang sombong, angkuh, merasa diri paling hebat. Sebab apa? Sebab keberhasilan maupun kemenangan yang telah dicapai, saya anggap semuanya hanya karena hasil kerja keras saya. Padahal kan tidak?! Yang benar adalah, ada campur tangan dari Allah SWT. Ada kehendak Allah di dalamnya, ada garis yang telah Allah tentukan di sana. Jadi, semuanya adalah karena ALLAH SWT. Kalau sudah seperti itu, maka apakah saya pantas untuk mengatakan bahwa “semuanya karena hasil kerja keras saya?”. Lalu dimana Allah saya letakkan?!
Fabiai-yi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
Jadi, masih adakah alasan untuk kita/saya untuk tidak mencintai surat ini?
Jadi, masih adakah alasan untuk kita/saya untuk tidak mencintai surat ini?
0 komentar:
Posting Komentar